Beranda | Artikel
Persiapan Sebelum Jihad
19 jam lalu

Persiapan Sebelum Jihad adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Burhan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 25 Rabiul Akhir 1448 H / 05 Oktober 2026 M.

Kajian Tentang Persiapan Sebelum Jihad

Tujuan pertama adalah meninggikan kalimat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan merendahkan kalimat orang-orang kafir, menegakkan peribadatan hanya kepada Allah semata di muka bumi, serta mendakwahi manusia kepada Islam.

Tujuan kedua adalah menangkal serangan orang-orang yang melampaui batas dan menyerang negeri-negeri kaum muslimin. Terkait hal ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah [2]: 190)

Larangan melampaui batas ini ditegaskan kembali dalam firman-Nya:

فَمَنِ اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ

“Oleh sebab itu, barang siapa menyerang kamu, maka seranglah dia setimpal dengan serangannya terhadapmu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 194)

Keadilan syariat tampak dari perintah membela diri dan mempertahankan negeri kaum muslimin dengan balasan yang setimpal tanpa melampaui batas.

Tujuan ketiga dari jihad adalah menundukkan orang-orang kafir hingga mereka membayar jizyah dengan patuh dalam keadaan tunduk. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّىٰ يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَن يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ ‎﴿٢٩﴾

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari akhir, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (QS. At-Taubah [9]: 29)

Ayat tersebut menegaskan bahwa salah satu tujuan jihad adalah menundukkan orang-orang kafir yang memusuhi Islam.

Mengazab Orang Kafir dan Menolong Kaum Mukminin

Tujuan jihad berikutnya adalah menghukum orang-orang kafir, melegakan dada orang-orang yang beriman, dan memberikan pertolongan serta kemenangan kepada kaum mukminin.

قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُّؤْمِنِينَ

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghukum mereka dengan perantaraan tanganmu dan menghinakan mereka serta menolong kamu atas mereka, juga melegakan hati orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah [9]: 14)

Memurnikan Keimanan dan Meraih Mati Syahid

Tujuan selanjutnya adalah menguji serta memurnikan keimanan kaum mukminin dan memberi kesempatan untuk meraih keutamaan mati syahid di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang memasuki medan jihad menyadari adanya dua kemungkinan mulia, yaitu meraih kemenangan atau memperoleh mati syahid.

Mati syahid di jalan Allah memiliki keutamaan besar berupa jaminan surga dan pengampunan seluruh dosa. Namun, keutamaan tersebut tidak menggugurkan kewajiban melunasi utang. Utang merupakan hak sesama manusia yang wajib diselesaikan dan tidak boleh diabaikan.

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ‎﴿١٣٩﴾‏ إِن يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهُ ۚ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ…

“Dan janganlah kamu merasa lemah, dan jangan pula bersedih hati, sebab kamu paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu pada Perang Uhud mendapat luka, maka mereka pun pada Perang Badar mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 139-140)

Pergiliran masa menang dan kalah merupakan ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menguji manusia, sebagaimana dinyatakan oleh Abu Sufyan saat ditanya oleh Raja Heraklius mengenai peperangan yang terjadi di antara mereka.

Peperangan pada hakikatnya silih berganti; terkadang menang dan terkadang kalah. Kejayaan dan kehancuran senantiasa dipergilirkan di antara manusia sebagai ketetapan di dunia. Melalui medan perang, Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji dan membedakan keimanan orang-orang beriman dari orang-orang kafir, serta memilih sebagian di antara mereka untuk gugur sebagai syuhada.

…وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 140)

وَلِيُمَحِّصَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَمْحَقَ الْكَافِرِينَ

“Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa-dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 141)

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 142)

Jihad menuntut aqidah yang lurus serta kekuatan mental dan iman karena ujian di medan perang amat berat. Sangat keliru anggapan bahwa seseorang boleh bermaksiat atau menggunakan jimat dan mantra kekebalan sebelum berangkat ke medan laga dengan harapan sekadar meraih mati syahid.

Sebelum pasukan muslim bergerak demi mewujudkan tujuan-tujuan disyariatkannya jihad, ada kewajiban utama yang harus dipenuhi: menundukkan hawa nafsu dalam ketaatan kepada Allah, berpegang teguh pada syariat-Nya, dan meyakini sepenuh hati bahwa pertolongan semata-mata datang dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Niat berjihad harus murni untuk menegakkan kalimat Allah, menolong kaum mukminin, dan menundukkan orang-orang kafir. Niat tersebut tidak boleh dinodai oleh keinginan untuk dipuji sebagai pemberani atau pahlawan. Penyimpangan niat akan membawa pelakunya ke dalam neraka, bukan surga.

“Akan didatangkan seorang yang mati syahid di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah mengingatkannya akan berbagai nikmat yang telah diberikan kepadanya, dan orang itu pun mengakuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang telah engkau perbuat dengan nikmat-nikmat tersebut?’ Orang itu menjawab, ‘Aku telah berperang di jalan-Mu hingga aku mati syahid.’ Allah berfirman, ‘Engkau dusta! Engkau berperang hanya agar dikatakan sebagai seorang pemberani, dan hal itu telah dikatakan kepadamu.’” (HR. Muslim)

Sebagian orang berperang hanya agar dinilai sebagai pemberani atau pahlawan tangguh yang tidak mengenal rasa takut. Niat keliru semacam ini menyebabkan pelakunya diseret wajahnya lalu dilemparkan ke dalam api neraka. Keikutsertaan dalam jihad menjadi sia-sia dan berujung pada siksa akibat niat yang menyimpang. Seseorang yang hendak berjihad tidak boleh mengharapkan gelar pahlawan, taburan bunga di makam, ataupun kenaikan pangkat, sebab hal tersebut menggugurkan pahala dan mengundang azab Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Persiapan Sebelum Jihad

Menundukkan Hawa Nafsu demi Ketaatan

Terdapat hal-hal yang wajib dipersiapkan sebelum berangkat berjihad. Langkah pertama adalah bersungguh-sungguh menundukkan hawa nafsu (mujahadatun nafs) untuk menaati Allah ‘Azza wa Jalla, berpegang teguh pada agama-Nya, serta meyakini sepenuhnya bahwa pertolongan semata-mata datang dari Allah. Anggapan bahwa perbuatan dosa seperti meminum khamar atau berzina dapat ditebus secara instan hanya dengan gugur di medan perang merupakan pemahaman yang keliru.

الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ

“Orang yang benar-benar berjihad adalah orang yang menundukkan hawa nafsunya dalam ketaatan kepada Allah.” (HR. Ahmad)

Kesiapan jihad diuji melalui ketaatan sehari-hari, seperti kedisiplinan melaksanakan shalat Subuh berjamaah di masjid serta membersihkan diri dari harta haram seperti riba. Ketidakmampuan mengendalikan diri dari perbuatan dosa dan kemalasan menunjukkan belum adanya kesiapan sejati untuk berjihad.

Menghadapi Setan dari Kalangan Jin dan Manusia

Langkah kedua adalah memerangi setan dari kalangan jin maupun manusia. Iblis telah bersumpah demi keagungan Allah ‘Azza wa Jalla untuk senantiasa menghalangi umat manusia dari jalan yang lurus. Oleh karena itu, berbagai rintangan yang ditemui saat menempuh kebenaran bersumber dari godaan iblis yang mengarahkan manusia agar menyimpang dari jalan Allah.

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

“(Iblis) menjawab, ‘Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus.’” (QS. Al-A’raf [7]: 16)

Iblis juga merekrut bala tentara dari kalangan manusia untuk melemahkan kekuatan kaum muslimin dari dalam. Hal ini tampak pada orang-orang munafik dan para pengkhianat yang menjual agama serta nurani mereka demi keuntungan materi duniawi. Mereka bahkan membocorkan informasi mengenai kaum muslimin kepada pihak musuh, seperti kaum Yahudi, agar kaum muslimin dapat dibinasakan.

Berpegang Teguh pada Tali Allah dan Menghindari Fanatisme Golongan

Kewajiban penting berikutnya bagi kaum muslimin adalah berpegang teguh pada agama Allah secara bersama-sama dan tidak bercerai-berai akibat slogan-slogan maupun penamaan-penamaan baru yang tidak diridhai oleh Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menamakan umat ini sebagai kaum muslimin. Nama inilah yang semestinya disandang, bukan julukan-julukan kelompok yang memecah belah persatuan.

هُوَ سَمَّىٰكُمُ ٱلْمُسْلِمِينَ مِن قَبْلُ وَفِى هَٰذَا

“Dia telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan begitu pula dalam Al-Qur’an ini.” (QS. Al-Hajj [22]: 78)

Kemuliaan seorang hamba terletak pada ketundukannya secara ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta komitmennya mengikuti ajaran tauhid.

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَٱتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun berbuat kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus?” (QS. An-Nisa’ [4]: 125)

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim)?’” (QS. Fussilat [41]: 33)

Umat Islam dilarang membangkitkan seruan-seruan jahiliah maupun fanatisme kelompok yang mengotak-ngotakkan persaudaraan kaum mukminin.

“Barang siapa menyeru dengan seruan jahiliah, maka ia termasuk penghuni neraka Jahanam. Seorang sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, meskipun ia berpuasa dan shalat?’ Beliau menjawab, ‘Meskipun ia berpuasa dan shalat. Maka serulah dengan seruan Allah yang telah menamai kalian dengannya: kaum muslimin, kaum mukminin, hamba-hamba Allah.’” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Menjelang datangnya hari kiamat, kelak kaum muslimin akan memerangi orang-orang Yahudi hingga seluruh persembunyian mereka terbongkar, kecuali satu jenis pohon.

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ، فَيَقْتُلُهُمُ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ، فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوِ الشَّجَرُ: يَا مُسْلِمُ، يَا عَبْدَ اللهِ، هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي، فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ، إِلَّا الْغَرْقَدَ، فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ

“Tidak akan terjadi hari kiamat sampai kaum muslimin memerangi orang-orang Yahudi. Kaum muslimin memerangi mereka hingga seorang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, lalu batu atau pohon itu berkata, ‘Wahai muslim, wahai hamba Allah, ini ada orang Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuh dia,’ kecuali pohon gharqad, karena ia adalah pohon orang Yahudi.” (HR. Muslim)

Pohon dan batu akan berbicara memberitahukan keberadaan orang Yahudi di belakangnya agar dibunuh, kecuali pohon gharqad karena pohon tersebut merupakan pohon kaum Yahudi.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Persiapan Sebelum Jihad” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56596-persiapan-sebelum-jihad/